Saya sudah agak lupa kapan tepatnya kejadiaan ini
berlangsung.
Mungkin saat saya masih duduk di bangku smp, ya sekitar itulah seingat saya.
Saya mengamati apa yang terjadi disekeliling saya, saya
melihat sesuatu dari sana.
Dan saya melihat sesuatu yang menurut saya monoton. Ya, alur
hidup manusia.
Saya melihat dan berfikir, kita lahir sebagai seorang bayi,
tumbuh menjadi seorang anak-anak, kemudian menjadi dewasa, tua dan akhirnya
mati.
Dan saya mulai berfikir, aku sudah melewati sd,sekarang aku
smp, ntar lagi lulus sma, trus habis sma kuliah, habis itu cari kerja,
berkeluarga, punya anak, tua, mati, kemudian anak ku juga sama seperti aku.ya
hanya berputar-putar saja disitu.
Munculah pertanyaan difikiran saya, apa manusia hidup hanya
untuk begitu?? Lahir,menyelesaikan pendidikan,kerja,berkeluarga,tua, dan
akhirnya menjadi tiada???apa hanya itu siklusnya??
Pada saat itu saya belum dapat menjawab pertanyaan saya
sendiri, kemudian saya bertanya pada kaka laki-laki saya, dan ia berkata :
“ Memang siklusnya begitu, tapi yang terpenting dalam hidup
itu adalah, bagaimana cara kamu mengisi hidup mu. Apa saja yang kamu perbuat
dalam hidup mu selama kamu hidup, itu yang penting, makanya kalau mau hidup mu
itu bahagia, lakukan sesuatu yang bermakna. Jangan main terus kamu.”
Saya hanya diam dan mencoba berfikir.
Seiring berjalannya waktu, saya mendapat banyak sekali
pengalaman dan dari pengalaman itulah saya mulai dapat sedikit demi sedikit
mendapatkan jawaban dari pertanyaan saya.
Papa saya juga selalu berkata, setiap kali saya mengeluh
terhadap sesuatu hal yang tidak dapat saya kerjakan dengan baik.
“ Setiap manusia memiliki waktu yang sama, mempunyai
kesempatan yang sama, dan kemampuan yang sama, seseorang mempunyai bakat
tertentu karena mereka berlatih dengan keras, berusaha dengan maksimal, dan mau
tekun mencoba kembali ketika mereka gagal dalam usahanya . Semua itu bergantung
dari bagaimana kamu mengolah waktu mu sendiri.”
Ya, papa saya selalu berkata begitu dengan saya.( ketika
saya sma)
Saya mulai berfikir, saya rasa apa yang papa saya ucapkan
itu benar.
Einstein lahir, dan ketika masih bayi apakah ia lahir
langsung sepintar itu tanpa belajar, berlatih,membaca buku, dan mencoba
berbagai macam penelitiaannya?
Apakah sesorang yang pandainya minta ampun, lahir langsung
pintar begitu tanpa ada sesuatu penunjang atau pendukung(latihan,
belajar,praktek,mencoba,dsb)?
Saya rasa tidak demikian , karena semuanya butuh proses.
Itulah yang menjadi salah satu semangat saya, ketika
disekolah saya mendapat nilai yang kurang baik, saya terkadang merasa bodoh
diantara semuanya, namun saya selalu melatih diri saya untuk berfikir lebih
dalam dan menerima keadaan.dan tidak menyalahkan orang lain.
Saya akan melakukan
perenungan einstein setelah itu mulai berlatih dan belajar kembali.
Well, kembali ke topik.
Seiring berjalannya waktu saya dapat jawabanya.
Siklus hidup memang seperti ini, seperti bunga
layu,gugur,tunas,berseri,patah, tumbuh, hilang,dan berganti.
Lahir, bayi,sd,smp,sma,kuliah,kerja,berkeluarga,punya
anak,tua,sakit,mati.
Tapi yang membedakan kualitas hidup seseorang adalah apa
yang sudah ia lakukan,ia kerjakan.
Dengan apa mereka mengisi kehidupan mereka, dan bagaimana
sudut pandang mereka melihat sisi kehidupan mereka, baik,buruk,positif atau
negatif?? Bahagia atau tidak???itu semua masing-masing pribadi yang dapat
menjawabnya.
Saya punya ilustrasi.
Jika anda ditawari 2 buah rumah dan anda harus memilih salah
satunya.
Rumah yang super mewah, lengkap dengan fasilitasnya atau
rumah gubuk yang sederhana.
Mungkin banyak dari kita akan memilih rumah yang pertama.
Tapi tunggu dulu. Rumah hanyalah wujud fisiknya, jangan lihat rumahnya, tapi
lihat isi penghuninya.
Mungkin rumah itu mewah, megah,mahal, berfasilitas lengkap,
rumah dambaan siapapun, tapi penghuninya, selalu bertengkar, tidak ada
kehangatan antar keluarga,tidak ada kerukukan, tidak ada kasih sayang, semua
keluarganya hidup secara personal. Apa anda mau seperti itu?
Sedangkan di dalam rumah yang sederhana, di dalamnya dihuni
oleh orang –orang yang penuh dengan cinta kasih dan kasih sayang, saling
peduli, hidup secara sosial, saling membantu. Dan penuh dengan kehangatan. Inilah
rumah yang hidup.tidak seperti rumah yang pertama, rumah megah, tapi rumah itu
mati.
Ilustrasi tadi sama halnya kita dan hidup kita.
Kita punya segalanya, wajah tampan, hidup sejahterah,
pandai, tapi sudahkah kita mengisi hidup kita dengan makna ?
Jangan mengisi hidup anda dengan permusuhan,pertengkarang,
saling menjatuhkan satu sama lain, jangan senang menciptakan permusuhan, jangan
isi dengan keputus asaan.
kita hidup sederhana, wajah cukup tampan, hidup penuh
syukur, cukup pandai, tapi kita gunakan waktu dan tenaga kita untuk menolong,
dan peduli dengan sesama. Saya rasa itu jauh lebih bermakna.
Isilah hidup anda dengan suka cita, ciptakan pertemanan, kembangkan
rasa peduli terhadap sesama, tebarkan cinta kasih dan kasih sayang kepada semua
makhluk.
Jangan melakukan sesuatu yang apabila itu terjadi dengan
kita, kita juga tidak mau menerimanya.
Sebenarnya tulisan saya masih sangat panjang bila ingin saya
lanjutkan, mungkin bisa sampai jadi buku,hahahahaha. Tapi saya rasa itu saja
yang ingin saya bagikan dengan anda.
Terimakasih telah mau meluangkan waktu anda untuk membaca
tulisan saya, yang mungkin masih banyak kekurangannya.
Semoga kita semua berbahagia
Semoga semua makhluk berbahagia.
J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar